Melawan batas perasaan denganmu tidak mudah, sahabat. Padahal sebelumnya aku tidak sepakat dengan perkataan temanku, “Tidak mungkin bisa cewek dan cowok bersahabat tanpa muncul perasaan satu sama lain atau salah satunya, atau setidaknya pernah memendam.”

Kau membuatku berkuasa atas diriku yang sesungguhnya. Membuatku berani menikmati hari-hariku yang tak membosankan seperti sebelum adanya dirimu. Saat aku terbiasa menikmati bahagia di kota, kau menemaniku berbalik arah untuk mengenal alam lebih dekat. Memasuki hutan, mendengar kriuk daun kering yang terinjak, melangkah semakin dalam memandang tingginya pohon pinus. Melangkah lebih lebar, lalu kau ulurkan tangan untuk membantuku melangkah lebih tinggi. Ada kalanya aku merasa ragu, kau menatapku dan berkata, “Kamu gak percaya samaku?” Kuraih tanganmu, membuat aku mampu menikmati aroma hutan lebih jelas. Dengan kamera di tanganku, di tanganmu, bersama mengabadikan keindahan semesta yang terwakilkan di hutan itu. Hutan yang dulu kita temukan, tanpa ada satu orang pun yang berkunjung. Hanya bertemu dengan bapak tua yang sibuk mengumpulkan getah pohon.

Di lain waktu, kau membiarkanku duduk di ayunan sebuah Panti Asuhan. Entah kapan terakhir kalinya aku duduk di ayunan sebelum kau menciptakan memori itu kembali. Ayunan di bawah pohon besar yang  rindang. Sangat teduh di kala panas, dan semakin nyaman di kala awan menutupi cahaya mentari. Memandangi anak-anak panti naik turun saat bermain jungkat-jungkit yang percis ada di depan ayunan, menyaksikan tawa bahagia saat mereka menaiki permainan lingkaran yang diputar. Kau membuka mataku akan dunia ini lebih lebar. Berada di sampingku saat aku berbincang dengan salah satu anak panti, mendengarkannya bercerita mengenai kelurganya, mengenai mimpinya.

Kemudian kau keluarkan bola basket dari tas hitammu. Masih kuingat suara bola itu saat memantul di lapangan di dekat tempat bermain Panti Asuhan. Aku mengajakmu adu shooting, dan kita sepakat akan berlari memutari lapangan jika bola tidak masuk ring. “Biar kamu kurus,” katamu sambil tertawa. Terkadang kita bermain dengan anak panti. Atau membiarkan mereka bermain dan kita akan duduk di pinggir lapangan, bercerita mengenai banyak hal. Kau ingat? Hampir setiap hari kita menyempatkan untuk mampir ke panti. Pernah pulang dengan ban motor yang bocor sehingga kau harus mendorong entah sampai mana. Kebingungan saat kehilangan kunci motor di panti yang ternyata tertinggal di motor dan diambil oleh petugas panti. Hingga kejadian lucu saat kau mengunjungi salah satu anak, dan anak itu justru teriak marah-marah tanpa alasan yang jelas. Aku belum pernah ke panti lagi sejak terakhir bersamamu. Belum lagi menginjak rumput hijau di pinggir lapangan, atau duduk di ayunan bawah pohon itu.

Hingga kau memiliki kekasih, dan batas menjadi jarak untuk kita. Walaupun sejak awal batas itu memang ada karena perjanjian yang kubuat. “Jangan sampai suka samaku, ya.” Kataku saat perjalanan di motor setelah membeli tiket sebuah perjalanan. Namun batas itu menjadi tegas. Membuat aku dan kamu semakin jauh karena tahu diri. Sulit mengatakan bahwa ada rindu yang aku pendam. Aku kehilangan. Kehilangan sahabat yang bisa mendengarkan ceritaku sampai pagi, menemaniku memandang awan yang ada lebih rendah dari tempat yang kupijak dan menatap mentari yang ada di atas, membukakan mataku akan kehidupan sosial lebih dalam, membantuku lebih percaya diri pada hobiku mengabadikan moment, dan membuatku yakin bahwa benar-benar aku jatuh cinta pada alam.

Suatu saat aku sampaikan padamu bahwa perasaanku sudah melebihi batas. Lalu kau membuat batas itu semakin tinggi dan jarak semakin jauh. Merelakan pun menjadi mudah seiring dengan merelakan air mata yang keluar setiap kugiring namamu dalam doa. Keadaan berbalik ketika kau hadir kembali di sela kesibukanku, di saat perasaanku sudah kembali pada batas netral. Di hutan yang sedikit ramai itu kusampaikan agar kau kembali berusaha menarik perasaanmu, mengembalikannya pada titik netral. Lalu batas itu kembali menjadi jarak, dan jarak menjadi batas karena keberadaanmu di pulau yang berbeda saat ini. Sampaikan salamku pada deru ombak, pada teriknya mentari di pulau indah itu.  Sampai saatnya nanti tiba, kita bertemu lagi, bermain bersama alam entah di belahan bumi mana. Sebagai sahabat yang sudah berhasil berjuang mencapai titik netral, setelah saling mengatasi perasaan yang melewati batas.

Untukmu, sahabat. Walaupun masih berjuta langkah kenangan yang tak tersampaikan. Ingat ya, jangan lupa membawa oleh-oleh saat mengunjungiku di kota yang pengap ini.

Advertisements

2 thoughts on “Melawan Batas Melebihi Sahabat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s