Jumat, 19 November 2015

SMS. *Teh, besok dan lusa sibuk gak teh? Butuh reader nih, kira2 teteh bisa bantu gak teh?

*Teteh: Sapaan untuk perempuan dengan usia lebih tua (kakak) dalam Bahasa Sunda.

Tahun ini merupakan tahun kelima aku mengenalnya. Sejak aku dan dia mengenakan seragam putih abu-abu, hingga kini aku dan dia menempuh kuliah di Perguruan Tinggi. Dengan kelopak mata yang masih berat, aku membalas sms darinya, menyetujui akan membantu.

Sabtu, 20 November 2015

Terik matahari siang ini membakar lalu lintas kendaraan yang padat di akhir pekan. Aku membawa motor perlahan hingga kudengar bunyi klakson dari mobil dan motor dibelakang, kuputuskan memercepat laju motorku. Kemacetan di Kota Bandung sudah biasa di akhir pekan, namun masih tidak biasa bagiku. Kesal rasanya setiap berada di jalan saat siang hari yang panas dan dalam riung kemacetan. Dengan lega, aku memasuki gerbang Panti Sosial Bina Netra “Wyata Guna”. Hari ini tampak sepi, tidak ada yang biasanya bermain gitar, dan tidak ada yang mengobrol di depan asrama. Setelah aku memarkirkan motorku, aku berdiri memandang pintu asrama untuk beberapa detik. Sudah beberapa bulan  aku tidak menginjak tempat ini. Rindu.

Tenang dan sepi. Kucing liar tampak keluar dan masuk asrama. Aku duduk di bangku sebelah kanan pintu masuk. Melihat ke arah depan, di sisi kiri pintu masuk, aku melihat sofa dan meja yang diangkat ke atas sofa tersebut. Di bangku itulah, biasanya aku membaca, lima tahun lalu. Di tempat ini, apabila tidak digunakan, maka meja akan diangkat ke atas sofa, untuk mengurangi kemungkinan kecelakaan. Asrama ini memiliki beberapa kamar yang terdiri dari beberapa penghuni, namun aku hanya mengenal dua teman di asrama ini.

Terdengar suara motor yang berhenti di depan asrama. Dia datang, diantar Ibunya. Mengenakan baju merah, dia memasuki pintu asrama. Hari ini, dia memerlukan bantuan untuk mengerjakan tugas metode penelitian yaitu membuat latar belakang masalah. Sudah ada beberapa artikel yang dia temukan mengenai penyesuaian diri, disabilitas, disabilitas netra, dan mengenai pendidikan.

Aku masih ingat saat membacakannya buku pelajaran SMA dan suaraku direkam di handphone-nya, lima tahun yang lalu. Orang yang membantu membacakan teman-teman di tempat ini biasa dipanggil reader. Karena keterbatasan dalam penglihatan, maka diperlukan reader untuk bisa membantu membaca. Sepulang sekolah, dengan masih mengenakan seragam, hampir setiap minggu aku akan mengunjungi ke asrama ini. Pernah tiga kali dalam seminggu, kadang lebih. Menarik ketika mendengar berbagai cerita darinya maupun saat bercerita padanya. Mengenai sekolah, teman, dan cinta. Terkagum-kagum aku melihat kelebihannya dalam hal ingatan yang luar biasa. Bisa menghafal dengan sangat cepat, dan menyimpan ingatannya dalam waktu lama. Belum pernah aku temukan orang dengan kekuatan memori sepertinya.

Dalam belajar pun ada kerja keras yang dilakukan. Keterbatasannya tidak menghalangi untuk menjadi juara di kelasnya, di salah satu SMA swasta umum (non khusus disabilitas) di Bandung.

Pernah dia meminta diajarkan menggunakan jangka dan busur.

“Teh, ini gimana caranya?” Aku melihat tangannya meraba busur mengikuti bentuknya. Lalu mulai meraba jangka, dan menemukan sisi tajam yang membuat jari telunjuknya tersentak. Mataku sedikit basah. Aku pegang tangannya dan perlahan mencoba menggunakan jangka. Ternyata menggunakan jangka sangat sulit untuknya. Dia terus mencoba, sampai berhenti dan bertanya, “Harus dilihat ini mah ya, teh?” Wajahnya tetap ceria, seperti biasa. Entah apa yang dipikirkannya, aku merasa dia sangat tegar dan kuat dibandingkan aku.

Suatu hari aku kaget ketika mengantarnya dengan motorku menuju rumah pacarnya untuk mengambil Al-quran braille. Memasuki gang kecil yang memiliki banyak sekali belokan dan persimpangan. Dia mengarahkanku setiap belokan hingga sampai tanpa tersesat. Orang  yang tidak bisa melihat menuntun orang yang bisa melihat. Saat itu, pertama kalinya, dalam kekurangannya, aku memuji Tuhan. Senang, melihat dia dan pacarnya mengobrol mengenai cinta, saling menggoda dan tertawa. Ada ketulusan cinta diantara mereka. Cinta disiapkan untuk semua orang. Benar kata orang, love is blind. Jika cinta yang sesungguhnya memandang fisik, bagaimana dengan mereka yang memiliki kekurangan dalam penglihatan? Beragam hal aku pelajari dari bergaul dengannya.

Ketika belum paham, aku pernah memegang tangannya dengan tujuan untuk menunutunnya ke motorku. Lalu dia marah. Mulai saat itu aku tahu, mereka (tidak hanya dia) ingin diperlakukan bahwa mereka juga bisa. Nyatanya, mereka bisa! Banyak hal yang tidak bisa kita lihat tetapi bisa kita lihat dari mereka, seperti kehebatan Tuhan.

I respect blind people, because they judge others by their personality, not by their looks – unknown

braile

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s