Di liburan kenaikan kelas menuju kelas tiga SMA, aku magang di sebuah toko serba ada yang cukup besar dan memiliki nama. Mengenakan kemeja putih dan celana kain hitam, dengan rambut dicepol. Menjadi pramuniaga di department food bagian snack sudah membuat bocah perempuan sepertiku menemukan kebahagiaan dan pelajaran yang tidak biasa.

Aku berdiri dengan tegak memandangi sederetan snack yang dipajang dihadapanku. Kakiku mulai pegal dan bosan untuk berdiri. Kulangkahkan kakiku ke pojokan dan menunduk, memajukan deretan snack yang mulai berkurang agar nampak terisi di display depan. Jam di tanganku menunjukkan pukul 14.00. Jam dimana toko ini sangat sepi. Apalagi di bulan puasa. Inilah saat paling berat bagiku. Entah harus melakukan apa, seakan memang bekerja untuk tidak melakukan apa-apa.

Aku berjalan keluar lorong, melihat ke arah lorong yang lain. Keadaannya pun sama. Kemudian kepala bagian snack memanggilku untuk ke gudang yang berada di lantai empat. Tangga di tempat ini sangat sempit, tidak memungkinkan untuk berjalan dua orang. Aku berjalan di belakang bunda –panggilan untuk kepala bagian snack–. Tiba di lantai empat aku menghela nafas panjang. Bunda tertawa sambil menepuk  bahuku.

“Capek, ya?” Dia tersenyum lalu berjalan di depanku.

“Lumayan juga ternyata ya, bun.” Jawabku.

Sepanjang penglihatanku, hanya ada kardus-kardus yang bertumpuk dan membentuk jalur untuk dilalui. Lokasi penyimpanan stok untuk snack ada di sudut kiri ruangan. Cukup mudah diingat dibandingkan yang lain. Setibanya di bagian snack, bunda menggeser kardus-kardus hingga menutupi jalan, mengusir debu di lantai dengan potongan kardus dan duduk di lantai. Aku ikut duduk sambil tersenyum riang. Kakiku terselamatkan. Lelahku teristirahatkan. Bunda menggeser kardus dengan tangan kirinya dan mengambil sebuah snack yang ada di belakang kardus itu, membukanya. Ia mengambil satu, lalu menawarkanku untuk mengambilnya. Kata bunda, untuk barang yang rusak memang diperbolehkan untuk dimakan. Tapi entah hal itu benar atau tidak, aku tidak peduli. Kami mengobrol mengenai banyak hal hingga kantuk menyerang. Bunda tertidur, bersandar ke kardus di samping kanannya. Gudang ini sangat nyaman. Sama sekali tidak panas, dan tidak dingin. Kepalaku mulai tidak stabil, dan mataku tiba-tiba menjadi enggan terbuka.

“Ayo, turun lagi.” Aku terbangun karena tepukan pelan bunda di bahuku.

Aku melihat jam, sekarang pukul 16.00. Tidur siang illegal yang sangat membantu, benar-benar memuaskan. Aku kembali turun membawa beberapa snack untuk dipajang di display. Toko mulai ramai karena mulai mendekati jam buka puasa. Banyak anak kecil yang berlalu lalang di lorong bagian snack. Ada yang hanya melihat-lihat, ada yang mengambil snack tertentu, ada yang mengambil dan meletakkan semaunya.

Di lain hari, aku berdiri di pojok lorong, mengobrol dengan anak magang dari sekolah berbeda. Kemudian setumpukan snack terjatuh, menimbulkan suara keras yang menarik perhatian karena penghalang yang terbuat dari besi ikut terjatuh. Ada perempuan seusiaku berdiri di dekatnya lalu mengangkat tangan, “Bukan sama saya ya, mbak.” Dia lari kecil meninggalkan lorong. Aku menghela nafas, sedikit bergetar karena takut dimarahi. Satu persatu snack kurapikan kembali. Beberapa orang dari bagian lain melihatku, tidak ada yang membantu. Ada yang mencibir, dan berbisik membicarakan seakan-akan aku yang menjatuhkannya. Mood-ku turun drastis, seperti terjun dari lantai 30 sebuah gedung tinggi. Aku berjalan cepat menuju gudang, menggeser-geser kardus hingga tertutup. Duduk, memejamkan mata. Gudang yang sepi dan nyaman ini lagi-lagi menjadi penetralisir emosiku yang labil saat itu.

Setiap harinya kusempatkan berdiam di gudang bersama dengan tumpukan kardus dan debu-debu halus di lantai. Sejak saat itu kutemukan cara untuk mengontrol emosiku, menyepi dari keramaian untuk sesaat, memejamkan mata, menarik nafas panjang.

Saat ada waktu luang di malam hari, aku akan mengunjungi temanku yang berjaga di bagian diskon buah-buahan. Mengambil kesempatan memetik anggur diam-diam. Merasakan asam dari anggur hijau yang menyebar di mulut. Setetes kesegaran setelah lelah menghadapi konsumen yang rewel. Batagor murah di samping toko pun menjadi lauk terenak untuk makan siang atau makan malam. Batagor di gerobak warna coklat yang dijual oleh bapak tua yang baik hati. Aku akan membeli batagor kuah yang hangat, kadang batagor kering. Ayam goreng sangat mahal untukku saat itu.

Magangku berakhir tepat di malam takbiran. Aku mendapatkan upah Rp.150.000 untuk lima belas hari kerja ditambah bonus kebahagiaan yang tak ternilai. Bolak balik mengambil barang ke lantai 4, rasa pegal di kaki yang hebat karena berdiri tanpa duduk selama 8 jam, berjalan takut di malam yang gelap selepas shift siang, dan kenangan tidur di lantai berdebu berdinding kardus mungkin tidak dapat aku beli saat ini.

Satu minggu sebelum malam takbiran, aku mendatangi kepala department food meminta jadwal liburku ditukar karena bertepatan di malam takbiran yang diwajibkan untuk bekerja. Dia menatap mataku dalam, “Kamu gak perlu iri sama teman-temanmu yang mendapatkan libur di minggu ini sedangkan kamu tidak. Setiap orang memiliki rejekinya masing-masing. Kamu harus percaya itu, dan pegang itu.” Mataku berair. Malu. Aku si anak perempuan manja yang perhitungan. Pelajaran seperti ini yang tidak ada di bangku sekolah. Dunia itu keras dan luas, lebih luas dari ruang kelas yang terbatas.

Terima kasihku untuk salah satu SMA swasta yang ada di Kota Cimahi karena telah menyediakan ilmu kehidupan yang berharga di luar ruang kelas. Merubah cara pandang si anak perempuan manja dalam menanggapi dunia.

kardus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s